Inovasi Pewarna Alami Ramah Lingkungan untuk Batik Besurek

 TEKNIK PEWARNAAN ALAMI BATIK BESUREK MENGGUNAKAN BOILING TREATMENT 

Tujuan Pembelajaran 
1. peserta didik mampu mengidentifikasi tanaman yang dapat  digunakan sebagai pewarna alami pada batik besurek. 
2. Peserta didik mampu memahami langkah-langkah pembuatan pewarna alami batik besurek ramah lingkungan. 

Pewarna alami batik besurek berasal dari tanaman potensial yang berada di sekitar lingkungan atau daerah di Bengkulu. Tanaman-tanaman yang berpotensi menjadi sumber pewarna alami di wilayah Bengkulu sangat banyak dan tersebar luas, contoh dari tanaman potensial sebagai alternatif pewarna alami  batik besurek adalah:

1. Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis
Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi)

2. Jengkol (Archidendron pauciflorum
Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi)
3. Bunga Kertas (Bougainvillea sp
Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi)
4. Kunyit (Curcuma longa

Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi)

Keempat tanaman tersebut mengandung zat antosianin, kurkumin, dan tanin sehingga dapat dijadikan sebagai pewarna alami, bukan hanya keempat tanaman tersebut saja yang dapat menghasilkan pewarna alami namun masih banyak lagi di sekitar lingkungan kita. Dapatkah ananda sekalian menyebutkan tanaman apa saja yang dapat dijadikan sebagai pewarn alami?

Proses pewarnaan alami batik besurek melibatkan beberapa tahapan utama:


Mari kita bahas setiap tahap lebih lanjut!

1.     Boiling Treatment

Boiling treatment merupakan sebuah proses yang harus dilewati sebelum dilakukannya pewarnaan, kain harus melalui proses boiling treatment, yaitu perebusan kain dalam air panas untuk meningkatkan daya serap terhadap pewarna alami. Dalam proses ini, ditamabahkan tawas yang berfungsi sebagai zat pembantu fiksasi awal. Proses ini memiliki beberapa manfaat utama, seperti:

·       Meningkatkan penyerapan warna alami dengan membuka pori-pori serat kain.

·       Mengurangi konsumsi mordant sintetis, sehingga lebih ramah lingkungan.

·   Meningkatkan daya tahan warna, yang mengurangi kebutuhan pewarnaan ulang dan mengehemat sumber daya. 

   Tawas yang digunakan dalam fiksasi awal tentunya memiliki dosis standar agar proses boiling treatment berfungsi dengan baik, adapun dosis standar larutan tawas adalah 5% atau 5 gram tawas dilarutkan dalam 100 mL air.

Cara melakukan boiling treatment:

·       Siapkan laurtan tawas dengan mencampurkan 5 gram tawas dalam 100 mL air bersih.

·       Panaskan larutan hingga mencapai suhu 60oC (tidak sampai mendidih).

·       Masukkan kain ke dalam larutan twas dan rendam selama 30 menit, sambil diaduk.

·       Angkat kain, bilas dengan air bersih, dan keringkan sebelum masuk ke tahap pewarnaan. 

Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi

2. Ekstraksi Warna (Maserasi)

Setelah melalui proses boiling treatment, pewarna alami harus diekstraksi dari tanaman dengan teknik maserasi menggunakan perbandingan standar 1:10 (1 bagian tanaman : 10 bagian air). 

Langkah-langkah maserasi warna:

·       Timbang tanaman yang akan digunakan (cont, 100 gram bunga kembang sepatu)

·       Potong atau tumbuk tanaman yang akan dimaserasi menjadi pewarn alami

·       Tambahkan air sebanyak 1000 mL (1liter)

·   Kemudian, rebus tanaman tersebut selama 15 menit menggunakan api yang sedang dan tunggu hingga air berkurang hingga 1/5. 

·       Saring larutan untuk mendapatkan ekstrak warna murni.

·       Larutan pewarna siap digunakan dalam proses pencelupan kain. 

Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi)

1.     Pewarnaan Kain dengan Pewarna Alami

Setelah mendapatkan larutan pewarna, kain dapat mulai diwarnai dengan cara:

·       Celupkan kain ke dalam larutan pewarn alami sebanyak 3x dalam waktu 15 menit

·       Kemudian jemur kain dengan cara diangin-anginkan

2.     Fiksasi Warna

Setelah kain diwarnai, proses fiksasi diperlukan untuk meningkatkan daya tahan warna terhadap pencucian, penjemuran, dan gesekan. Dalam pewarnaan konvensional, fiksasi sering menggunakan zat kimia seperti kromium dan alumunium sulfat, yang dapat mencemari lingkungan. namun, dalam teknologi pewarnaan ramah lingkungan, digunakan mordant alami, antara lain: 

Sumber: Zahrani, 2025 (Arsip pribadi)

·      Tunjung (FeSO4): Mengikat molekul pewarna alami dengan serat kain, memperdalam warna, serta meningkatkan ketahanan terhadap pencucian, sinar matahari, dan gesekan. 

·     Kapur Sirih (CaCO3): Membantu menstabilkan pigmen warna dengan reaksi ionic, menghasilkan warna lebih cerah tanpa menyebabkan pencemaran air.

Kedua mordant tersebut memiliki dosis standar apabila ingin digunakan contohnya:

·       Tunjung (FeSO4) 10% = 10gram tunjung dilarutkan dalam 100 mL air.

·       Kapur Sirih (CaCO3) 5% = 5gram kapur sirih dilarutkan dalam 100 mL air.

Keunggulan Fiksasi Ramah Lingkungan

·       Tidak menghasilkan limbah beracun yang mencemari air dan tanah.

·       Memanfaatkan bahan alami yang llebih aman bagi pekerja dan ekosistem.

·       Mengurangi ketergantungan pada bahan kimia industri yang tidak terbarukan.

Cara melakukan fiksasi

·       Siapkan larutan mordant sesuai dosis standar diatas

·       Rendam kain yang sudah diwarnai dalam larutan fiksasi selama 10-15 menit

·       Bilas kain dengan air bersihuntuk meenghilangkan sisa larutan fiksasi

·       Jemur kain  di tempat teduh.

YUK!!! Lanjut ke materi berikutnya! Klik link di bawah untuk belajar lebih lanjut!

Komentar

Postingan Populer